Sekitar 16 Guru di PHK, Rafael Ama Raya sebagai Kuasa Hukum

Reporter: PangkeEditor: Tim Redaksi
Poros NTT News
Ket foto :Rafael Ama Raya,S.H.,M.H Bersama 16 Guru Yang di PHK Oleh Pihak Yayasan Maria Bintang Samudra Meminta Keadilan.

Lewoleba,Porosnttnews.com – Kurang lebih 9 bulan persoalan tak kunjung tuntas yang dialami oleh ke-16 mantan Guru di Sekolah Dasar Katolik (SDK) 1 Lewoleba Kabupaten Lembata himgga meminta Kuasa hukum Rafael Ama Raya, S.H., M.H. untuk mendampingi.

Sebab Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pihak Yayasan Bintang Samudera seharusnya mendapatkan keadilan dan hak.

Swipe up untuk membaca artikel

Kuasa hukum para Guru yang di-PHK, Rafael Ama Raya S.H., M.H dan Associates membenarkan bila pihaknya menerima kuasa dari para Eks Guru SDK 1 Lewoleba untuk mendampingi dalam penyelesaian persoalan PHK.

Ada 16 Eks Guru SDK 1 Lewoleba minta pendampingan hukum ke kita, karena permasalahan hak, dan PHK sepihak,” tutur Ama Raya.

Menurutnya, ada beberapa point yang harus digaris bawahi, Pertama masalah hak, dalam hal ini upah tenaga Guru tidak sesuai dan tidak merujuk pada peraturan perundangan melainkan kesepakatan Komite lalu menjadi kebijakan Kepala Sekolah.

Kedua statusnya disekolah apakah di akui atau tidak sebab Pihak Yayasan Maria Bintang Samudera telah memanggil Tenaga Guru baru menggantikan Klien kami.

Baca Juga :  Nama Brigjen Anton Tifaona Diabadikan Jadi Nama Aula di Lembata

Ketiga Peraturan Yayasan dalam hal ini, kontrak kerja tidak ada.

Keempat PHK, dilakukan sepihak oleh pihak Yayasan.

“Kami minta pihak berwenang memanggil dan melakukan pemeriksaan terkait masalah ini karena sudah berjalan hampir setengah tahun. Sebab itu, kita akan membawa persoalan ini ke Pengadilan Negeri Lembata agar Klien kami bisa memperoleh Keadilan,” tegas Ama Raya,

Ina (39) salah satu Guru yang di PHK Oleh pihak Yayasan Maria Bintang Samudera menuturkan bila pemecatan dirinya seolah-olah dibuat-buat.

Usai peralihan Yayasan, kami Guru-guru tidak di di sampaikan secara lisan maupun tulisan dan kami di larang untuk Mengajar di Jam Mengajar yang biasa kami lakukan, kami kasihan dengan anak-anak sekolah yang kena imbasnya.

“Kami di larang Mengajar oleh Pihak Yayasan maka Guru baru yang di panggil Oleh Yayasan yang akan mengisi Posisi kami maka Metode Pembelajaran yang sering anak-anak dapat dari kami di rubah dan anak akan belajar ulang, dan itu kami suda saksikan sendiri,” terangnya.

Baca Juga :  Meningkatnya Kekerasan Seksual Terhadap Anak LBH SIKKAP Lembata Angkat Bicara

Ia juga mengaku kalo pihak Yayasan Memaksa mereka untuk Ikut mengisi dan menandatangani Surat Pernyataan yang mana SK yang menjadi Dasar mereka mngikatkan diri dgn Pihak Yayasan masih aktif hingga bulan Desember, Olehnya Ia dan Teman-teman Guru lainnnya menolak dan Pihak Yayasan memberikan ancam pecat,

Hal senada disampaikan rekan Gurunya Yosep Amuntoda (60) yang suda 20an Tahun mengapdikan diri di Sekolah SDK 1 Lewoleba ikut menuturkan bila permasalahan seperti ini, baru kali ini terjadi semenjak ia menjadi Guru di sekolah SDK 1 Lewoleba.

Dirinya merasa prihatin dan sangatlah kecewa terhadap pihak Yayasan yang tidak menghargainya sebagai Guru yang cukup lama mengapdikan diri di sekolah SDK 1 Lewoleba,

Sekolah SDK 1 Lewoleba di Tahun 2022 ini, memasuki Usia 72 Tahun saya sebagai Guru yang cukup lama.

“Tidak ingin sekolah yang saya jaga selama puluhan Tahun ini rusak karena kepentingan segelintir Orang terutama Yayasan,” tutupnya.**