Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Saredame : Dari Memoria Passionis Menuju Rekonsiliasi Sejati

Poros NTT News
Germanus S. Attawuwur

Kupang, Porosnttnews.com – Oleh Germanus S. Attawuwur – Putra Lembata, tinggal di Kupang


  1.  Pengantar – “Saredame” Tema yang menjadi “bahan diskusi sehari” antara Heritanatawa Purap (entahkah nama sebenarnya??) dan penulis sendiri yang menggunakan akun Germanus S. Attawuwur sebagai jati diri sesungguhnya. Jauh sebelum diskusi ini, sudah ada opini yang ditulis oleh senior saya Philipus alias Ipi Bediona. Berangkat dari diskusi inilah maka saya terdorong untuk menulis opini kecil ini.
  2. Spiral Peradapan Manusia – Manusia adalah makhluk berakal budi. Akal budi itu selalu digunakan untuk mewujudkan eksistensinya. Dan hatinurani menjadi kompas perwujudan itu. Selain sebagai makhluk berakal budi, manusia dikenal juga dengan sebutan homo laborans yang menegaskan jati dirinya melalui kerja/karya. Karya hendak memberikan arti sesungguhnya kepada pekerjanya. Karena itu dia bekerja dengan memberikan seluruh dirinya di dalam pekerjaan tersebut. Namun demikian, manusia tidak hanya berorientasi pada kerja. Untuk itu perlu refleksi. Refleksi terhadap adanya, tetapi sekaligus juga merefleksikan apa yang telah dikerjakannya agar pekerjaan itu selalu dibarui menuju sebuah kesempurnaan. Saredame, hemat saya adalah hasil dari sebuah refleksi atas masa lampau yang telah terjadi di tanah Lembata. Saredame senantiasa merujuk pada sesuatu yang telah terjadi secara tidak manusiawi, dan karena itu maka dengan melaksanakan ritus saredame situasi itu terpulihkan, didamaikan dan dibuat jadi baik sebagaimana sediakala adanya, ” Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (Kej.1:31a).” Bila kiblat saredame adalah ke-lampau-an Lembata yang kurang manusiawi, maka kita dapat sebutkan beberapa peristwa kematian orang-orang Lembata yang diduga meninggal tak wajar (dibunuh) dan erupsi Ileape yang menimbulkan korban yang tidak sedikit. Terhadap situasi yang tidak manusiawi itulah maka ritus saredame ini dibuat.
  3. Memoria Passionis – Tentu sebagai roang-orang Lembata kita masih punya ingatan kolektif. Kita punya memoria passionis, ingatan akan penderitaan. Penderitaan psikososial yang disebabkan oleh munculnya berita kematian tak wajar dari warga masyarakat beberapa tahun lampau. Terbaru adalah kematian seorang guru secara tak wajar yang sekarang ini kasusnya dibuka kembali setelah melewati perjalanan panjang meletihkan dari perjuangan putra Lembata, Ahmat Bumi, SH. Endingnya belum kita ketahui karena masih berproses hukum.  Selain tindakan brutal kanibalis dari warga masyarakat yang diduga menjadi pelaku pembunuhan atas nyawa seseorang. Dari sekian banyak dugaan peristiwa pembunuhan itu, berapakah kasus kematian tak wajar ini diselesaikan melalui proses hukum? Ketika kematian tidak wajar itu sengaja didiamkan oleh orang-orang yang berwewenang, maka, darah itu masih tetap berteriak tanpa suara meminta pertangunggjawaban baik dari pelaku maupun dari yang memiliki kewenangan untuk menyelesaikan kasus-kasus ini secara hukum. Darah yang berteriak tanpa suara dan tidak mampu didengarkan, maka “panasnya” tanah Lembata akan terus dirasakan. Sementara itu panasnya tanah ini oleh ulah manusia, erupsi Ileape datang membawa kabar buruk. Bahwa alam pun mulai enggan bersahabat dengan manusia. Dua hal, humanisme dan ekologi yang sedang tidak bersahabat inilah menjadi latarbelakang mengapa ritus saredame ini digagas oleh Bupati Thomas Ola Langoday.
  4. Rekonsiliasi Sejati – Humanisme yang sedang tercabik dan ekologi yang terluka adalah hal yang tentunya dijumpai dalam refleksi bupati Lembata yang kemudian melahirkan gagasan Saredame. Saredame itu bentuk rekonsiliasi. Rekonsiliasi itu dapat terjadi jika seluruh proses kenangan akan kejahatan di masa silam itu bertumpuh atas jati diri bersama sebagai manusia berketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Rekonsiliasi dengan manusia (yang sudah meninggal dengan cara tak wajar) tetapi juga rekonsiliasi dengan alam. Jadi ada rekonsiliasi altruis – humanis dan rekonsiliasi ekologis. Rekonsiliasi membutuhkan kerendahan hati, tetapi rekonsiliasi juga menuntut pertobatan.
Baca Juga :  Kesehatan Bukanlah Segalanya, Namun Tanpa Kesehatan Segalanya Tidak Berarti

Kerendahan hati untuk mengakui ada kita sebagai ada yang rapuh-lemah penuh kekurangan dan dosa; dan pertobatan kolektif adalah penyesalan dan niat serta tekad untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Untuk itu maka kerendahan hati dan pertobatan kolektif harus berpadu dalam ritus saredame. Ritus saredame adalah budaya orang-orang Lembata yang dijalankan untuk mendapatkan pengampunan dan serentak itu pula dapat menyembuhkan ingatan-ingatan akan dan rasa terluka karena kejahatan dan membentuk persekutuan baru yang saling mempercayai.

Ritus saredame adalah upacara memohon pengampunan atas kejahatan dan penyembuhan atas penderitaan saling berkaitan secara tak terpisahkan. Pengampunan berjuang untuk menyembuhkan dukacita dan menegakan kembali kualitas-kualitas kemanusiaan yang paling dalam.
Rekonsiliasi humanis dan ekologis ini akan menjadi rekonsliasi sejati bila bermuara pada bingkai Rekonsiliasi Teologis karena manusia menyadari diri bahwa kemanusiaan manusia berpijak pada kerahiman Allah. Rekonsiliasi Teologis itu hendak menghantar orang Lembata untuk memahami secara lebih mendalam kata-kata Tuhan tatkala DIA menciptakan bumi dan segala isinya:” Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (Kej.1:31a).”