Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Kepala sekolah mengakui bahwa hampir seluruh siswa menerima dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk menunjang biaya pendidikan mereka.
Namun, keterbatasan itu tidak menghalangi semangat guru dan siswa untuk terus belajar.
Charles Primus Kia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal fasilitas, tetapi soal kemauan dan kesempatan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
“Sekolah kami sederhana. Anak-anak di sini kebanyakan dari keluarga kurang mampu, tapi mereka punya semangat belajar yang tinggi. Beberapa siswa mendapatkan bantuan dana PIP. Kami terus berusaha menciptakan lingkungan belajar yang layak dan penuh semangat,” jelasnya.
Selain fokus pada pengembangan pendidikan, SMAK St. Yakobus Rasul Lewoleba juga tengah berjuang membangun Asrama sebagai fasilitas pendukung bagi siswa yang berasal dari desa-desa jauh.
Pembangunan ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari pondasi hingga rencana pembangunan dinding.
Kepala sekolah berharap adanya perhatian dan dukungan lebih luas dari pemerintah daerah maupun pihak-pihak dermawan, termasuk dari tokoh masyarakat seperti Ibu Julie Sutrisno Laiskodat, yang dikenal aktif mendukung pendidikan di NTT.
“Saat ini kami sedang membangun Asrama. Pondasinya sedang dikerjakan, tapi kami masih mencari dana untuk melanjutkan pembangunan dinding,” ungkap Charles.
Reporter: PorosNTT
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












