Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Kisangulu-Kisah Sepenggal, Dua dari Congo-Afrika

Reporter : Nus Narek (Kinshasa, 18 Juli 2022) Editor: Tim Redaksi
Poros NTT News

Congo,Porosnttnews.com-Hal terbaik adalah memulai dengan sedikit ramah “Selamat Datang di Kisangulu.” Orang Perancis akan bilang: “ Bienvenue à Kisangulu”. Ini adalah salah satu tempat piknik cukup menarik di RDC atau Republik Demokratik Kongo. Tentu, amat menarik dan berkesan bagi saya.

Apalagi Kisangulu adalah tempat pertama yang saya kunjungi setelah satu purnama berada dan tinggal di RDC. Mungkin Kisangulu bukan apa-apa, tetapi sebagai yang pertama, ibarat malam pertama, Kisangulu memberi kesan yang luar biasa.

Poros NTT News

Tentu dari sisi destinasi atau juga Journey. Juga orang-orang yang saya jumpai. Indah dan sangat ramah.

Pertama, seorang polisi berdiri di depan pintu. Sebuah senjata menyilang di dadanya. Tetapi, orangnya sangat ramah. Ia menyambut kami dengan senyum indah. Senyum kecil dari wajahnya. Dengan segera, ia membuka gerbang. Memberi hormat lalu mempersilahkan kami masuk. Luar biasa ramah bukan?

Masuk ke arena Kisangulu berarti anda disuguhi aneka pemandangan eksotis. Mulai dari aneka rumah yang meski sederhana tapi memberi kesan at home. Di dekat tempat parkir mobil, anda langsung dibuat takjub dengan sebuah menara “Eiffel”. Kayak di Kota Paris. Walah.. tetapi siapa yang tidak ingin mengambil gambar di bawahnya? Saya yakin Anda akan menyukai menara kecil ini. Di dekatnya, sebuah kolam besar dan dalam. Saya suka sekali kolam ini.

Baca Juga :  Cerita Misionaris Afrika: Bermisi Melalui Musik

Apalagi, airnya begitu jernih dan bersih. Saya jadi tak sabar. Ingin hati dengan segera buka baju, tanggalkan celana, lalu terjun. Uitsss, .. jangan buru-buru. Kalo mau mandi, pakailah pakaian (renang). Walah..!

Lebih dari itu, Anda akan disuguhi aneka bir. Para pelayan menghampiri Anda. Dengan senyum banyak manjanya, mereka akan mendengarkan pesanan bir kesukaanmu. Bukan main. RDC kaya akan bir, bro dan sis! Jenisnya malah bermacam-macam. Rasanya juga masing-masing berbeda.

Dan tentu, kandungan alkohol juga tak sama. Kalau Anda suka, Anda bisa pesan “Beaufort, Primus, Kembo, dll. Saya justru tertarik dengan “Amurula.” Bukan bir. Amurala adalah sejenis alkohol kombinasi susu dan alkohol. Susunya kental dan tentu asli. Maksudnya: asli dari Gajah.

Dikombinasikan dengan sedikit alkohol, maka jadilah “Amarula.” Rasanya Waow. Sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Tentu, Saya belum kehabisan kata-kata. Apalagi di dekatnya adalah sebuah danau alam yang sangat eksotis. Seorang nelayan dengan perahu kecilnya tampak sedang menjala. Saya mendoakannya. Semoga sang nelayan banyak rejeki hari itu.

Baca Juga :   Dampak Teknologi Terhadap Hubungan Orang Tua dan Anak di Era Globalisasi

Biar istri anaknya senang dan bangga dengan pekerjaannya. Seperti saya yang senang dan bangga melihatnya ber-perahu. Ingat perahu, ingat kampung halaman sendiri. Sejenak merenung. Pikiran membawa nun jauh ke Jakarta tembus Adonara. Nun jauh. Merenung lagi. Tetapi,..

Kata rekan imam yang sudah cukup lama berkarya di RDC, bahwa Congo adalah wilayah yang sebetulnya sangat kaya dari sisi alam.

Tetapi sayang, mungkin salah urus, mungkin belum temukan pemimpin yang pas, mungkin karena perang saudara yang yang selalu berkecamuk, mungkin karena jadi boneka asing, sampai mungkin Tuhan belum berkenan. Jadi begini sudah keadaannya.

Amburadul dan jauh dari kata maju. Saya anggukkan kepala. Mendengar dengan tenang dan menyimpannya dalam hati.

Tetapi dari hati kecil sebetulnya ada bisikan manja: “Saya lagi jatuh cinta dengan tempat kecil ini!” Apalagi, jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Dengan segera, mata melirik meja makan. Para pelayannya cantik sekali.