Terinspirasi dari Novel Lamauri Karya Fince Bataona
By :Thomas Swalar/ Selasa,20 Mei 2026.
PRS – Ketika banyak orang memandang Lamalera dari kisah perburuan paus yang mendunia, ada sosok lain yang tak kalah penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir itu.
Mereka adalah perempuan Lamalera, para penjaga pangan, tradisi, dan solidaritas yang menjadi fondasi kuat kehidupan masyarakat adat selama berabad-abad.
Melalui novel Lamauri karya Fince Bataona, pembaca diajak melihat sisi lain Lamalera yang jarang disorot.
Bukan tentang tempuling yang menembus ombak atau keberanian para nelayan di tengah lautan, melainkan tentang tangan-tangan perempuan yang memastikan setiap keluarga tetap memiliki makanan dan kehidupan yang layak.
Dalam salah satu bagian novel, digambarkan bagaimana perempuan Lamalera mengelola jagung sebagai sumber pangan utama.
Jagung pilihan dipisahkan, dibersihkan menggunakan abu dapur, lalu disimpan dalam Matagapu sebagai cadangan makanan keluarga.
Tradisi sederhana itu menunjukkan bahwa perempuan Lamalera bukan sekadar pengurus rumah tangga, melainkan perencana ketahanan pangan yang memahami pentingnya persediaan makanan bagi masa depan keluarga.
Di tengah kondisi alam Lamalera yang kering dan berbatu, perempuan menjadi ujung tombak ekonomi keluarga melalui sistem barter yang telah berlangsung turun-temurun.
Mereka berjalan menuju Pasar Wulandoni dengan membawa ikan paus kering hasil tangkapan para nelayan untuk ditukar dengan jagung, ubi, dan berbagai hasil bumi dari wilayah pegunungan.
Sistem barter tersebut bukan sekadar aktivitas perdagangan, melainkan bentuk solidaritas sosial yang menghubungkan masyarakat pesisir dan pegunungan dalam hubungan saling membutuhkan.
Di saat ekonomi modern bergantung pada uang dan fluktuasi pasar, tradisi barter Lamalera tetap bertahan sebagai simbol kemandirian masyarakat adat.
Sistem ini membuktikan bahwa kesejahteraan tidak selalu diukur dari banyaknya uang, tetapi dari kemampuan memenuhi kebutuhan hidup bersama.
Selain menjadi penggerak ekonomi keluarga, perempuan Lamalera juga berperan sebagai penjaga identitas budaya melalui tenun ikat.
Dalam novel Lamauri, tenun digambarkan sebagai simbol kesabaran, ketelitian, dan keuletan perempuan.
Sebuah lembar kain dapat dikerjakan selama berbulan-bulan, bahkan lebih lama jika dimulai dari proses pengolahan kapas menjadi benang.
Motif paus dan perahu yang menghiasi kain tenun bukan sekadar ornamen. Motif-motif tersebut merupakan catatan sejarah visual yang merekam hubungan erat masyarakat Lamalera dengan laut.
Melalui tenun ikat, perempuan Lamalera mewariskan cerita, nilai, dan identitas budaya kepada generasi berikutnya tanpa harus menuliskannya dalam buku.
Peran perempuan semakin terlihat dalam tradisi adat Ola Nua, yaitu sistem pembagian hasil buruan paus yang telah diatur secara turun-temurun.
Mereka memastikan pembagian daging dilakukan secara adil, termasuk memberikan prioritas kepada janda dan anak yatim. Tugas ini bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga keharmonisan sosial masyarakat.
Tanpa ketelitian dan kebijaksanaan perempuan dalam mengatur distribusi hasil buruan, potensi konflik dan kecemburuan sosial dapat muncul di tengah masyarakat.
Kisah perempuan Lamalera mengajak publik untuk melihat desa pesisir tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Lamalera bukan hanya tentang keberanian menaklukkan laut, tetapi juga tentang ketangguhan perempuan yang merawat kehidupan di daratan.
Di balik kisah para pemburu paus, terdapat perempuan-perempuan yang memikul bakul bambu di atas kepala, berjalan melintasi perbukitan menuju pasar barter, menenun kain penuh makna, dan memastikan tidak ada anggota masyarakat yang kelaparan.
Jejak mereka menjadi bukti bahwa keberlangsungan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menaklukkan alam, tetapi juga oleh kemampuan merawat hasil alam, menjaga solidaritas, dan membangun hubungan antarmanusia.
Melalui novel Lamauri, Fince Bataona menghadirkan penghormatan mendalam bagi perempuan Lamalerapara arsitek kedaulatan pangan yang selama ini bekerja dalam sunyi, namun menjadi penyangga utama keberlangsungan budaya dan kehidupan masyarakat Lamalera dari generasi ke generasi. (**)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










