
Girder jembatan dengan bentang sepanjang 35 meter memiliki bobot yang sangat besar dan membutuhkan peralatan khusus dalam pemasangan.
Penggunaan ekskavator dinilai bisa memengaruhi stabilitas struktur jembatan, sehingga dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan di masa mendatang.
Sementara itu, proyek peningkatan jalan Hurung–Ile Pati–Demondei, yang dikerjakan bawah pengawasan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, juga menjadi perhatian.
Berdasarkan Kontrak Nomor: HK.02.03/Bb10.8.5/140 tertanggal 12 Juni 2025, proyek ini dijadwalkan selesai dalam 202 hari kalender, dengan masa pemeliharaan selama satu tahun.
Namun, baru beberapa bulan dikerjakan, ruas jalan yang baru diaspal sudah mengalami kerusakan akibat banjir musiman yang mengikis bagian bahu jalan.
“Sumber anggarannya besar, Rp56 miliar dari APBN. Tapi baru beberapa bulan dikerjakan sudah rusak. Ini aneh,” kata salah satu warga Desa Ile Pati dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, kerusakan terjadi karena tidak adanya talud atau tembok penahan air (betangan semen) di sepanjang bahu jalan.
Akibatnya, hujan semalam air banjir langsung menggerus badan jalan dan mengakibatkan aspal cepat rusak.
“Kalau begini kan kualitasnya dipertanyakan, apalagi tidak dibangun saluran air permanen, jalan ini tidak akan bertahan satu tahun,” tambahnya.
Masyarakat setempat meminta agar pihak kontraktor dan BPJN NTT segera melakukan evaluasi kualitas pekerjaan sebelum proyek tersebut diserahkan.
Mereka berharap setiap titik rawan banjir harus diberi talud dan saluran air permanen untuk mencegah kerusakan dini.
“Kami minta pemerintah dan aparat hukum ikut mengawasi proyek besar seperti ini. Jangan sampai uang rakyat terbuang percuma,” ujar warga lain di lokasi proyek yang enggan disebutkan namanya.
Mirisnya warga pengguna jalan juga menilai bahwa pelaksanaan proyek terkesan terburu-buru dan kurang memperhatikan ketahanan jangka panjang.
“Hujan semalam saja sudah mengikis aspal. Ini proyek nasional, tapi hasilnya belum maksimal,” ujarnya.
Secara geografis, ruas jalan Hurung–Ile Pati–Demondei berada di kawasan dengan curah hujan tinggi dan kontur tanah labil, yang rawan banjir dan longsor.
Kondisi ini menuntut perencanaan teknis yang matang dan penggunaan material konstruksi berkualitas tinggi.
Namun, warga menilai pelaksana proyek tidak mempertimbangkan risiko tersebut dengan baik.
“Kami melihat sepanjang jalan tidak ada got atau talud permanen. Padahal daerah ini sering dilanda banjir,” ungkap warga.
Beberapa titik memang sudah dibangun dinding penahan dari semen, namun sebagian lainnya masih terbuka tanpa perlindungan.
Warga khawatir bila kondisi ini dibiarkan, maka hasil proyek bernilai miliaran rupiah itu akan cepat rusak sebelum masa pemeliharaan berakhir.
Seorang ahli konstruksi yang dimintai pendapat menjelaskan bahwa pekerjaan hotmix jalan harus dilakukan melalui tahapan yang ketat agar hasilnya kuat dan tahan lama.
Proses ini meliputi persiapan lahan, penghamparan material hotmix, hingga pemadatan akhir dengan suhu dan alat yang sesuai standar.
Menurutnya, tahapan pekerjaan jalan aspal panas (hotmix) yang benar meliputi:
1. Persiapan Lahan
Pembersihan material lepas seperti batu, rumput, dan sampah.
Pemadatan tanah dasar menggunakan alat berat untuk memastikan stabilitas.
Pemasangan lapisan dasar (base course) dari agregat sesuai ketebalan dan beban lalu lintas.
2. Produksi dan Penghamparan Material Hotmix
Pencampuran agregat dan aspal cair di Asphalt Mixing Plant (AMP) dengan suhu tinggi.
Material diangkut ke lokasi menggunakan truk tertutup agar tetap panas.
Sebelum penghamparan, dilakukan pelapisan primer (prime coat) untuk meningkatkan daya lekat antar lapisan.
Penghamparan menggunakan asphalt finisher untuk menjaga ketebalan dan permukaan yang rata.
3. Pemadatan dan Pemeriksaan Akhir
Pemadatan dilakukan saat material masih panas (125–145°C) menggunakan roller baja dan karet.
Setelah dingin, dilakukan pemeriksaan permukaan untuk memastikan tidak ada retakan atau gelombang.
Tahap terakhir adalah pemasangan marka jalan dan pembersihan area kerja.
Dia juga membeberkan “Jika salah satu tahapan ini diabaikan, kualitas jalan akan menurun drastis dan mudah rusak ketika terkena air hujan atau beban kendaraan berat.”
Masyarakat berharap agar BPJN NTT dan aparat penegak hukum melakukan pengawasan intensif dan tidak menutup mata terhadap dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek.
“Ini uang negara. Kalau hasilnya buruk, berarti ada yang salah dalam pengawasan. Kami butuh jalan yang bisa bertahan lama, bukan hanya bagus di awal,” tegas seorang tokoh masyarakat.
Proyek yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah kini justru memunculkan kekecewaan.
Akhir percakapan masyarakat pun menegaskan bahwa jika kualitas proyek tidak segera diperbaiki, mereka siap melaporkan ke pihak berwenang agar dilakukan audit dan pemeriksaan lebih lanjut.
Demikian dengan anggaran Rp76,6 miliar, proyek peningkatan jalan Hurung–Ile Pati–Demondei dan pembangunan Jembatan Bliko di Flores Timur seharusnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Namun, dugaan pelanggaran teknis dan rendahnya kualitas pekerjaan justru mencoreng citra pembangunan di daerah tersebut.
Warga berharap agar BPJN NTT, kontraktor pelaksana, dan instansi pengawas segera mengambil langkah korektif sebelum proyek diserahterimakan.
Transparansi dan kualitas kerja menjadi kunci agar proyek strategis nasional di Flores Timur tidak sekadar menjadi simbol pembangunan, tetapi benar-benar menghadirkan infrastruktur yang kokoh, aman, dan bermanfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Reporter: PorosNTT/Tim
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












