Yance menegaskan perlunya edukasi dan pendampingan bagi keluarga berisiko stunting atau calon pengantin, untuk memastikan kondisi yang ideal saat hamil dan melahirkan. “Sehingga pencegahan stunting harus dimulai dari situ,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Kupang, Drg. Fransisca J.H Ikasasi, menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar tentang tinggi badan, tetapi juga tentang kualitas otak.
Ia memperkuat pentingnya memperhatikan masa 1.000 hari pertama kehidupan anak sebagai upaya pencegahan stunting.
Fransisca juga mengajak masyarakat Kota Kupang untuk menjadi agen perubahan dalam percepatan penurunan stunting, terutama melalui program Kader Inisiasi Masyarakat Perkotaan (IMP).
“Kota Kupang memiliki lebih dari lima ribu balita yang terkonfirmasi stunting. Nah tugas kita bersama adalah mengatasi stunting ini,” tandasnya.
Pentingnya penanganan stunting juga ditekankan oleh Fransisca sebagai persiapan untuk generasi penerus bangsa. “Tantangan bangsa ke depan semakin besar sehingga generasi penerus kita harus lebih baik,” ungkapnya.
Dengan angka stunting di Kota Kupang mencapai 16,6 persen, Fransisca menegaskan bahwa penurunan harus terus dilakukan hingga mencapai target yang ditetapkan. “Ini tanggung jawab kita semua, sebagai orang tua, untuk bersama-sama menanggulangi stunting,” ajaknya.
Reporter : Endik
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












