Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Tragika Bangsa Dari Negeri Kaya Yang Didera Kemiskinan Tak Berkesudahan

Poros NTT News

Porosnttnews,com- Kerusakan etika, moral dan akhlak bukan cuma melabrak fitrah manusia sebagai ciptaan Tuhan yang telah diberi banyak berkah dan anugrah oleh Tuhan sehingga menusia menjadi makhluk yang paling mulia di muka bumi. Tapi akibat dari rusaknya etika, moral dan akhlak seperti yang kita rasakan sekarang ini, semakin parah dam gawat. Diantaranya adalah sikap zalim dan prilaku mau menang dan enak sendiri tanpa pernah hirau pada hak orang lain.

Ketamakan manusia sudah dimulai dari hasrat bicara lebih banyak untuk mememonopoli pendaoat atau opini yang intinya sekedar untuk menggagahi orang lain. Sikap tamak dan rakus semacam ini  terus dipacu dan dipicu oleh hasrat untuk memberi kesan lebih unggul dari orang lain.

Poros NTT News

Sementara orang lain pun  tak ingin kalah — mulai dari penampilan –hingga dalam berbagai bentuk yang diluapkan dengan penuh egoisme untuk sekedar dapat posisi, kedudukan, jabatan atau kekuasaan agar bisa dominan berkuasa, atau memiliki otoritas, sehingga dapat berbuat sesuka hati sendiri, sesuai dengan selara atau keinginan yang diinginkan untuk melipat gandakan daya dan upaya dalam segenap usaha untuk membahagiakan dirinya sendiri dan keluarga, kelompok atau geng perkongsian untuk berbagai hal, meski semua itu berada diatas penderitaan orang lain.

Baca Juga :  Harga Minyak Goreng Naik Berdampak Pada Kesulitan Pengusaha

Untuk keinginan  yang lain pun, terus dipicu dan dipacu, walau harus melabrak hak, privasi atau apa saja yang bisa memenuhi hasrat yang diinginkan itu.

Pada persilangan inilah paham kapitalisme jadi semakin menjadi-jadi sampai  beranak pinak melajutkan alih generasi dengan tampilan yang lebih canggih seperti yang disebut neo-lib.

Begitulah sikap individualistik tampil dengan kesan yang profesional, sehingga nilai-nilai kemanusiaan jadi tergradasi sedemikian rupa, hingga mengakibatkan nilai luhur yang  patut dibanggakan bangsa Timur tampak bertekuk lutut dibawah budaya kekuasaan kaum neoliberal yang semakin menjauh meninggalkan rasa kebersamaan, persaudaran dan semangat gotong royong bangsa Timur yang berbanding terbalik dengan dasar-dasar kepribadian etika, moral dan akhlak manusia di muka bumi.

Jadi bisa segera dibayang, betapa tamak dan rakus manusia pada hari ini, ketika dia mengingin sesuatu, mulai dari harta benda hingga jabatan dan kekuasaan yang tidak cuma bisa dibeli dengan uang, tapi juga acap mempertaruhkan harga diri. Bahkan martabat semua keluarga hingga anak turunan yang tak pernah menjadi pertimbangan dalam prilaku yang tidak beretika, tidal bermoral bahkan mengabaikan nilai-nilai akhlak yang menjadi ukuran semua agama langit.

Baca Juga :  Seiklas Awan Mencintai Hujan dalam Menjaga Keseimbangan Alam

Wacana meloloskan jabatan presiden sampai tiga periode yang sempat menjadi pembicaraan di media massa Indonedia, satu dari dejumlah bentuk sikap tamak dan rakus serta kemaruk itu, baik oleh mereka yang menggagas, maupun para cecunguk yang mendukung ide gila itu.

Kepongahan intektual mereka yang kurop, curang dan menyalahgunakan jabatan maupun kekuasaan atau wewenangnya itu demestinya bisa dipahami dan disadari sebagai amanah yang luhur. Lalu mengapa seakan menjadi sulit dipatuhi, apalagi kemudian hendak dihentikan agar tidak kesandung hukum. Meski realitasnya telah banyak pejabat — atau bahkan masih akan terus bertambah — jumlah mereka yang berani bertindak nekad, apalagi sanksi hukumnya di Indonesia dapat dikompromikan, atau berbagi duit yang haram itu untuk dapat meringankan seringan mungkin jeratan hukum yang tidak lagi dirasa mempermaluksn dirinya itu.

Ancaman dari  hukuman formal yang didewakan negara melah  dijadikan mainan seperti petak umpet. Bahkan ancaman peringatan dari hukum atau sanksi yang telah diwanti-eanti oleh al kitab Tuhan pun bukan saja tak mereka gubtis bahkan tidak mereka  percaya sedikitpun akan mendapat karma yang setimpal dari semua perbustan jahat itu.

Baca Juga :  Harapan Pandai Besi pada Media TMMD

Realitas serupa ini, jelas seperti sumpah dan janji ketika mau menerima jabatan dan mengemban amanah dari rakyat untuk rakyat, sumpah dan janji dengan menyinggi al kitab itu nyatanya cuma sekedar serimoni basa-basi, sekedar untuk memenuhi sarat formal agar  menjadi sah dan legal apa yang hendak dilakukannya kemudian.

Kolusi, korupsi dan nepotisme di Indonesia, sulit disanggah bila dikatakan telah menjadi budaya di negeri kita. Setidaknya, perilaku korup, telah mrluas seperti tradisi baru yang terus memompa birahi setiap orang yang  ingin cepat kaya dan takut miskin, karena memang hanya orang kaya di negeri ini  — dalam arti punya harta dan benda — manusia yang dianggap paling terhormat atau pantas dihormati, sementara yang lain, seperti tidak memiliki apa-apa di negeri ini.