“Walaupun diakui bahwa politik lokal selalu berbasis sosiologis karena tuntutan demokrasi partisipasi daripada demokrasi representasi,” ujarnya.
Secara sosiologis, Gabriel Beri Bina dan Natalia Mahenu dari Gerindra memiliki basis politik dan sosiologis, sedangkan Jane Natalia dari PSI hanya memiliki basis politik namun kurang memiliki basis sosiologis.
“Partai koalisi harus memastikan satu di antara tiga nama ini dengan mempertimbangkan dua hal, yakni basis politik dan sosiologis, karena calon wakil harus mampu mendorong profit elektoral bagi paslon ini,” tegasnya.
Dr. Atang juga mengingatkan bahwa figur-figur yang berhasrat memimpin NTT lima tahun ke depan akan menghadapi tantangan berat yang belum terselesaikan oleh pemimpin sebelumnya.
Tantangan tersebut antara lain keterbatasan ruang fiskal akibat beban utang pinjaman daerah yang harus dibayar hingga 2028, problem stunting yang masih tinggi, serta persoalan kemiskinan ekstrem yang hampir merata di seluruh kabupaten/kota di NTT.
“Oleh karena itu, harus ada langkah yang sinergis antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Siapapun kepala daerah mendatang akan menghadapi tiga masalah ini secara bersamaan,” pungkas Dr. Ahmad Atang.
Reporter : HN/JDS
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












