Opini  

Dari Modal Satu Juta Rupiah, Gadis yang Dulu Diolok Kini Jadi Rebutan

Reporter : PorosNTT
Poros NTT News

PRS – Dulu, ia hanyalah seorang gadis kecil yang datang dengan pakaian lusuh dan wajah penuh debu.

Tidak banyak orang yang meliriknya. Sebagian bahkan memandang rendah, seolah ia tak punya masa depan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Usaha Anda Tampil Disini? Hubungi Kami!!!

Namun bagi Yohanes Sason Helan, gadis itu bukan sekadar sosok yang tak berharga. Ia melihat harapan di balik kesederhanaannya.

Dengan modal awal tak lebih dari satu juta rupiah, Yohanes mulai merawat dan membesarkan gadis yang kemudian dikenal dengan nama Kopdit Swasti Sari. Perjalanan itu tidak mudah.

Ia menggendong gadis itu ke mana-mana, memperkenalkannya kepada banyak orang.

Tidak sedikit yang menertawakan langkahnya.

Ada yang mengejek, ada pula yang menganggap usahanya sia-sia. Tetapi Yohanes tidak menyerah.

Dengan ijin Tuhan dan restu para leluhur, ia terus memelihara gadis itu.

Sedikit demi sedikit, gadis kecil yang dulu dianggap tak berarti mulai tumbuh. Ia menjadi dewasa, kuat, dan cantik.

Baca Juga :  Apa Benar Daun Pisang Memiliki Kasiat Yang Luar Biasa

Orang-orang kecil ikut perlahan dan membantu dan membesarkannya.

Mereka itu adalah petani, buruh, pedagang kecil, yang hanya tamat SD datang membawa tabungan seadanya.

Uang receh yang mereka kumpulkan menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan sang gadis itu.

Mereka tidak memiliki banyak harta, tetapi mereka memiliki kepercayaan.

Waktu berlalu. Kini, gadis itu telah menjelma menjadi sosok yang memikat banyak orang.

Kekayaannya bertambah, pengaruhnya meluas, dan namanya dikenal di berbagai tempat.

Sejak saat itu, banyak yang datang mendekat. Bahkan beberapa peria perlahan mulai merebutnya.

Ada yang memujinya, ada yang mengaku paling berjasa, bahkan ada yang lupa siapa yang pertama kali membersihkan luka-lukanya dan membesarkannya dengan penuh kasih.

“ Saya tidak gila hormat. Saya tidak banyak bicara. Saya hanya diminta oleh anak-anak yang hidup bersama gadis itu. Mereka tidak mau gadis itu menangis karena ketidakadilan dari laki-laki yang membuatnya kecewa,” ujar Yohanes Sason Helan.

Menurutnya, gadis itu sudah besar tapi diperlakukan semena-mena.

Ia telah membantu banyak orang menjadi sukses. Ia telah mengangkat kehidupan ribuan keluarga.

Baca Juga :  FENOMENA ANTARA ADA DAN TIADA, WABAH COVID-19 TAK ADA AKHIR

Karena itu, Yohanes mengingatkan siapa pun yang kini berada di sekelilingnya agar tidak melukai hati sang gadis.

“Jangan buat dia kecewa. Jangan buat dia menangis. Sebab jika hatinya terluka, ia bisa meninggalkan kalian dan berpaling dengan kemarahan,” pesannya.

Yohanes mengaku masih mengingat masa-masa ketika banyak orang datang seperti pengemis, berharap diterima dan diberi kesempatan oleh sang gadis.

Kesombongan tumbuh, ego membesar, dan perlahan mereka lupa dari mana semuanya bermula.

Padahal, gadis itu lahir dari air mata, doa, dan perjuangan orang-orang sederhana.

Ia dibesarkan oleh tangan-tangan kasar yang bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik.

Hari ini, gadis bernama Swasti Sari memang menjadi rebutan.

Tetapi bagi Yohanes Sason Helan, ia tetaplah gadis kecil yang dulu kotor, rapuh, dan penuh harapan.

Gadis yang dibesarkan dengan cinta.
Gadis yang dijaga dengan doa.

Dan gadis yang tak boleh dikhianati oleh mereka yang kini berlindung di balik kata-kata. (**)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com

+ Gabung