Sebagai moderator, Prof. Fred Benu menegaskan bahwa pencapaian PAD Rp2,8 triliun harus ditopang oleh strategi kolaborasi pentahelix. Ia menawarkan tiga solusi, yakni:
- Optimalisasi pajak kendaraan bermotor dan parkir.
- Peningkatan standar kinerja OPD.
- Penguatan dukungan Bank NTT kepada UMKM melalui skema KUR dan pendampingan profesional.
“Bank NTT berperan sebagai intermediasi, tapi pendampingan oleh LSM, komunitas, dan mitra bisnis penting untuk menjaga agar kredit tetap sehat,” ujarnya.
Diskusi juga menyinggung kendala digitalisasi layanan keuangan. Banyak pelaku UMKM masih menggunakan pola konvensional, padahal Bank NTT telah menyediakan layanan Mbanking, QRIS, EDC, dan aplikasi digital payment.
“Tanpa adopsi teknologi, UMKM akan tertinggal. Literasi digital harus menjadi bagian dari strategi inklusi keuangan,” tambah Prof. Fred.
Dalam sesi berbagi pengalaman, General Manager KSP TLM, Zelsy W. Pah, menekankan bahwa pendampingan kelompok UMKM mampu mendorong produktivitas.
KSP TLM yang telah bermitra dengan Bank NTT, menyalurkan lebih dari Rp250 miliar pembiayaan desa, menjadi bukti kolaborasi produktif.
Pengusaha lokal pun turut berbagi kisah. Gledys Naray, pendiri UMKM MoriGe berbasis produk kelor, berhasil menembus pasar internasional berkat dukungan lembaga keuangan.
Sementara Roy, pengusaha kelapa asal Maumere, mampu menembus pasar nasional setelah bertahun-tahun bermitra dengan perbankan.
“Kami tidak mungkin berkembang tanpa dukungan Bank NTT. Kolaborasi itu harga mati,” ujar Gledys.
Melalui FGD ini, Bank NTT menegaskan lima strategi utama untuk mendorong inklusi keuangan di NTT:
- Sinergi Pentahelix: melibatkan pemerintah, akademisi, media, dan komunitas dalam pengembangan UMKM.
- Pendataan Desa: memetakan potensi desa untuk pembiayaan tepat sasaran.
- Digitalisasi Transaksi: mempercepat efisiensi dan transparansi keuangan daerah.
- CSR untuk Literasi Keuangan: meningkatkan kesadaran masyarakat.
- Kerja Sama Lintas Lembaga: memperkuat ekosistem pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.
Prof. Dr. David Pandie menutup diskusi dengan menekankan bahwa sebesar apapun dana yang digelontorkan tidak akan bermanfaat jika mental wirausaha masyarakat NTT belum terbentuk.
“NTT tidak kekurangan modal. Tapi kita butuh generasi muda yang berani berusaha. Literasi keuangan harus diikuti literasi kewirausahaan agar program inklusi benar-benar berdampak,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaborasi, Bank NTT berharap program pembiayaan Rp1 triliun bagi UMKM dapat menjadi tonggak baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat inklusi keuangan, serta menyukseskan target PAD NTT Rp2,8 triliun pada tahun 2025.
Reporter: HN/Tim
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












