Daerah  

Bank NTT Menyalakan Obor Kolaborasi, Rp1 Triliun Jadi Lentera Harapan UMKM

Poros NTT News
Bank NTT memimpin kolaborasi pentahelix melalui FGD di Kupang, menghadirkan 30 peserta dari berbagai unsur untuk memperkuat literasi keuangan dan dukungan terhadap UMKM.

Sebagai moderator, Prof. Fred Benu menegaskan bahwa pencapaian PAD Rp2,8 triliun harus ditopang oleh strategi kolaborasi pentahelix. Ia menawarkan tiga solusi, yakni:

  1. Optimalisasi pajak kendaraan bermotor dan parkir.
  2. Peningkatan standar kinerja OPD.
  3. Penguatan dukungan Bank NTT kepada UMKM melalui skema KUR dan pendampingan profesional.

“Bank NTT berperan sebagai intermediasi, tapi pendampingan oleh LSM, komunitas, dan mitra bisnis penting untuk menjaga agar kredit tetap sehat,” ujarnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Usaha Anda Tampil Disini? Hubungi Kami!!!

Diskusi juga menyinggung kendala digitalisasi layanan keuangan. Banyak pelaku UMKM masih menggunakan pola konvensional, padahal Bank NTT telah menyediakan layanan Mbanking, QRIS, EDC, dan aplikasi digital payment.

“Tanpa adopsi teknologi, UMKM akan tertinggal. Literasi digital harus menjadi bagian dari strategi inklusi keuangan,” tambah Prof. Fred.

Dalam sesi berbagi pengalaman, General Manager KSP TLM, Zelsy W. Pah, menekankan bahwa pendampingan kelompok UMKM mampu mendorong produktivitas.

Baca Juga :  Rektor UMK Ucapkan Selamat Hari Lahir Pancasila sekaligus Hari Raya Waisak 2567 BE

KSP TLM yang telah bermitra dengan Bank NTT, menyalurkan lebih dari Rp250 miliar pembiayaan desa, menjadi bukti kolaborasi produktif.

Pengusaha lokal pun turut berbagi kisah. Gledys Naray, pendiri UMKM MoriGe berbasis produk kelor, berhasil menembus pasar internasional berkat dukungan lembaga keuangan.

Sementara Roy, pengusaha kelapa asal Maumere, mampu menembus pasar nasional setelah bertahun-tahun bermitra dengan perbankan.

“Kami tidak mungkin berkembang tanpa dukungan Bank NTT. Kolaborasi itu harga mati,” ujar Gledys.

Melalui FGD ini, Bank NTT menegaskan lima strategi utama untuk mendorong inklusi keuangan di NTT:

  1. Sinergi Pentahelix: melibatkan pemerintah, akademisi, media, dan komunitas dalam pengembangan UMKM.
  2. Pendataan Desa: memetakan potensi desa untuk pembiayaan tepat sasaran.
  3. Digitalisasi Transaksi: mempercepat efisiensi dan transparansi keuangan daerah.
  4. CSR untuk Literasi Keuangan: meningkatkan kesadaran masyarakat.
  5. Kerja Sama Lintas Lembaga: memperkuat ekosistem pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.

Prof. Dr. David Pandie menutup diskusi dengan menekankan bahwa sebesar apapun dana yang digelontorkan tidak akan bermanfaat jika mental wirausaha masyarakat NTT belum terbentuk.

Baca Juga :  Melki Laka Lena Dorong Transparansi dalam Penetapan Direksi dan Komisaris Bank NTT

“NTT tidak kekurangan modal. Tapi kita butuh generasi muda yang berani berusaha. Literasi keuangan harus diikuti literasi kewirausahaan agar program inklusi benar-benar berdampak,” pungkasnya.

Dengan semangat kolaborasi, Bank NTT berharap program pembiayaan Rp1 triliun bagi UMKM dapat menjadi tonggak baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat inklusi keuangan, serta menyukseskan target PAD NTT Rp2,8 triliun pada tahun 2025.

Reporter: HN/Tim

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com

+ Gabung