“Jika uji coba berhasil, kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 10 MW, 100 MW hingga 300 MW sesuai rencana jangka panjang. Semua risiko investasi ditanggung penuh oleh PT Tidal Bridge tanpa membebani APBN,” terang Andre Koreh.
Selain aspek energi, proyek Jembatan Pancasila Palmerah juga diharapkan membuka konektivitas ekonomi baru di kawasan Larantuka dan Adonara.
Wilayah tersebut memiliki potensi besar di sektor pariwisata, perikanan, dan perkebunan yang selama ini belum tergarap maksimal.
Menariknya, para nelayan atau warga yang terdampak proyek ini akan mendapat kompensasi gaji dua kali lipat dari pendapatan semula, sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Investor tidak ingin ada satu warga pun yang dirugikan akibat pembangunan jembatan dan PLTAL ini,” tambah Andre.
Proyek ini adalah simbol kemandirian energi NTT sekaligus bukti kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, dan mitra internasional.
“Ini bukan sekadar mimpi, tapi langkah nyata untuk membuka akses energi bersih dan memperkuat konektivitas Flores Timur,” ujarnya optimistis.
Jika seluruh proses administrasi selesai, uji coba PLTAL diproyeksikan berjalan pada Maret–April 2026, menandai babak baru dalam sejarah energi terbarukan di Nusa Tenggara Timur.
Reporter: HN/Tim
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








