PRS – Di bawah langit Kota Kupang yang kadang muram dan kadang terik menyengat, nama Mukrianus Imanuel Lay tetap bergaung.
Bukan hanya di ruang sidang DPRD Kota Kupang, tetapi juga di lorong-lorong percakapan rakyat kecil yang pernah ia dampingi.
Dia dikenal sebagai kader Partai Hanura yang loyalis.
Setia pada garis perjuangan partai, taat pada sumpah jabatan, dan hadir dalam denyut aspirasi wong cilik.
Bagi banyak relasinya, Mokris bukan sekadar politisi, melainkan pribadi yang menanam kebaikan dalam kerja-kerja sunyi.
Ketua DPD Partai Hanura pun mengakui loyalitas dan dedikasinya. Sosok Mokris dinilai sebagai kader dengan komitmen tinggi terhadap partai dan masyarakat.
Kini, langkah hidupnya tengah berada dalam ujian berat.
Mokris menghadapi proses hukum dan menjalani hari-hari dalam ruang tahanan.
Tuduhan penelantaran menyeretnya ke ruang pengadilan, sebuah ironi yang terasa getir bagi mereka yang mengenalnya.
Namun bagi Mokris, proses ini adalah bagian dari dinamika hidup yang harus dihadapi dengan kepala tegak.
Ia memilih menempuh jalur hukum sebagai panggung pembuktian, percaya bahwa kebenaran tak akan tersesat arah.
“Hal sangat privasi dan itu internal masalah mereka. Jadi urusan PAW bukan urusan DPD. Semua itu keputusan Mahakamah partai,” tandasnya singkat, pada Rabu,11/2/2026.
Mahkamah Partai adalah lembaga internal tertinggi di partai politik Indonesia yang berwenang menyelesaikan sengketa kepengurusan, pemecatan, atau konflik internal lainnya secara mandiri
Mukrianus bukan figur yang lahir dari gemerlap privilese.
Ia tumbuh dari kesederhanaan, dari tanah yang keras dan kerja yang panjang.
Politik baginya bukan panggung sorak-sorai, melainkan medan pengabdian.
Loyalitasnya bukan sekadar retorika. Ia menjelma dalam rapat-rapat panjang, advokasi warga kecil, hingga kerja-kerja yang tak selalu tersorot kamera.
Relasi dan kolega mengenang sikapnya yang hangat, terbuka, serta teguh menjaga komunikasi lintas partai.
Di tengah riuh opini publik, solidaritas internal partai tetap terjaga. Hanura Kota Kupang menyerahkan sepenuhnya proses kepada mekanisme hukum yang berlaku.
Sejarah kerap bergerak dalam dialektika yang tak mudah ditebak.
Ketika pengabdian bersilang dengan prasangka, reputasi pun seolah digantung pada opini yang berlari lebih cepat dari fakta.
Di ruang persidangan, Mokris berdiri bukan hanya sebagai terdakwa, tetapi sebagai manusia yang berharap keadilan tetap berpijak pada fakta yang utuh.
Wajahnya mungkin menyiratkan lelah, namun sorot matanya menyimpan keyakinan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya.
Kisah ini belum usai. Ia masih berproses dalam lembar-lembar persidangan dan argumentasi hukum.
Namun satu hal yang tak berubah, di kota yang panasnya membakar siang dan dinginnya menggigilkan malam, Mokris Lay tetap berdiri sebagai wakil rakyat yang tengah diuji badai.
Sebab kabar bisa berlari tergesa, prasangka bisa menyalak nyaring, tetapi kebenaran, betapapun sunyi dan perlahan, akan selalu menemukan jalan pulang.
Reporter: HN/Tim
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












