Oleh Thomas Krispianus Swalar
Guru SMAN 1 Nagawutu, Kabupaten Lembata
“Masyarakat kita itu minat bacanya rendah, tetapi minat berdebatnya tinggi.”
Kalimat itu mungkin terdengar satir, tetapi itulah gambaran nyata masyarakat kita hari ini. Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang melek teknologi.
Jari-jari kita sangat lincah membuka aplikasi, menggulir layar, dan membagikan informasi.
Namun, saya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah kelincahan jempol kita sejalan dengan kedalaman berpikir kita?
Menurut saya, belum tentu. Di era digital ini, kita sering memahami literasi secara keliru.
Kita bangga karena internet semakin cepat, jumlah pengguna media sosial terus meningkat, dan informasi tersedia dalam hitungan detik.
Namun, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca tulisan di layar ponsel.
Literasi adalah kemampuan memahami, memverifikasi, dan merangkai gagasan dari setiap informasi yang kita baca.
Saya melihat media sosial telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi.
Jika dahulu orang membaca buku atau artikel panjang, kini banyak orang merasa cukup dengan video singkat, judul berita, atau kutipan pendek.
Akibatnya, kita mengalami ilusi pengetahuan. Kita merasa tahu banyak hal hanya karena membaca judul.
Kita merasa memahami persoalan hanya karena menonton video beberapa detik. Kita merasa berhak berdebat tanpa memahami konteks secara utuh.
Menurut saya, inilah salah satu masalah terbesar di zaman digital. Informasi datang terlalu cepat, tetapi tidak semuanya dipahami dengan benar. Kita lebih suka menerima kesimpulan instan daripada melatih diri untuk berpikir kritis.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










