Daerah  

Thomas Swalar: Menulis adalah Cara Hati Pulang kepada Keabadian

Reporter : Hendrik
IMG-20260725-WA0252

Dalam karya prosa, penulis membangun tokoh, konflik, alur, dan suasana, sedangkan dalam puisi lebih menitikberatkan pada pemilihan diksi, ritme, dan citraan.

Ia juga menilai penulisan draf pertama merupakan tahap yang paling menantang karena penulis harus menghadapi “kertas kosong” dan menuangkan seluruh gagasan menjadi rangkaian kalimat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Usaha Anda Tampil Disini? Hubungi Kami!!!

“Draf pertama tidak harus sempurna. Yang terpenting adalah memindahkan ide dari pikiran ke dalam tulisan. Kesempurnaan justru dibangun melalui proses penyuntingan,” katanya.

Thomas menjelaskan, setelah draf selesai, penulis sebaiknya memberi jeda sebelum kembali membaca karyanya. Tahap pengendapan ini bertujuan agar penulis memiliki jarak emosional sehingga mampu menilai tulisannya secara lebih objektif.

Menurutnya, kualitas karya sastra justru lahir dari proses penyuntingan yang dilakukan secara berulang.

Pada tahap ini, penulis memperbaiki struktur cerita, memperkuat karakter, menghapus bagian yang tidak diperlukan, serta menyempurnakan pilihan kata agar lebih efektif dan bernilai estetis.

“Banyak orang mengira menulis selesai ketika draf pertama selesai. Padahal, karya yang berkualitas lahir dari proses membaca ulang, memperbaiki, dan menyunting berkali-kali,” ungkapnya.

Thomas menambahkan, tahap akhir dari proses kreatif adalah publikasi. Ketika sebuah karya diterbitkan, penulis harus siap menyerahkan tafsirnya kepada pembaca.

“Saat karya dipublikasikan, ia bukan lagi hanya milik penulis. Pembaca akan memberikan makna sesuai pengalaman hidup dan sudut pandangnya masing-masing. Di situlah sastra menemukan kehidupannya,” tutup Guru SMA Negeri 1 Nagawutun itu. (**)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com

+ Gabung