Daerah  

Gubernur Melki Ajak IKA Kupang Jadi Agen Perdamaian dan Penggerak Pembangunan Adonara

Reporter : Hendrik
IMG-20260725-WA0236

PRS – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengajak Ikatan Keluarga Adonara (IKA) Kupang untuk mengambil peran sebagai agen perdamaian sekaligus motor penggerak pembangunan di Pulau Adonara.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Pelantikan Pengurus IKA Kupang Periode 2026–2030 di Aula UPT Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang, Sabtu (25/7/2026) malam.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Usaha Anda Tampil Disini? Hubungi Kami!!!

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menilai masyarakat Adonara dikenal sebagai perantau yang tangguh dan memiliki energi besar karena tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara. Namun, di balik potensi tersebut, masih terdapat persoalan konflik sosial, khususnya sengketa lahan, yang harus diselesaikan secara bersama.

Adonara ini terkenal sebagai perantau yang handal. Orang Adonara itu ada di mana-mana. Artinya, energi orang Adonara ini besar. Tapi ada satu sisi di Adonara ini yang mesti kita carikan solusi bersama terkait konflik soal lahan di Adonara,” ujar Gubernur Melki.

Menurutnya, Ikatan Keluarga Adonara tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga harus menjadi kekuatan moral yang mampu menjaga persaudaraan, memperkuat solidaritas, serta menjadi pelopor perdamaian di tengah masyarakat.

Gubernur secara khusus menyoroti konflik sengketa lahan antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mencari akar persoalan dan mengubah energi konflik menjadi kekuatan positif demi kemajuan daerah.

Coba kita periksa betul apa yang menjadi akar dari persoalan dan konflik di Adonara ini. Mesti kita cari cara agar energi negatif ini kita ubah jadi energi positif di tengah upaya kita lagi dorong Adonara jadi pusat pertumbuhan baru,” tegasnya.

Melki menekankan bahwa konflik yang berkepanjangan tidak pernah menghasilkan kemenangan, melainkan hanya meninggalkan luka, perpecahan, serta menghambat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Gubernur juga mengajak masyarakat menghapus stigma lama yang pernah melekat pada Adonara sebagai pulau para pembunuh, sebagaimana tertulis dalam catatan Ernst Vatter pada 1932.

Menurutnya, citra tersebut tidak lagi mencerminkan kondisi Adonara saat ini. Ia berharap Adonara dikenal sebagai daerah yang damai, berbudaya, cerdas, serta menjadi teladan dalam membangun persaudaraan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com

+ Gabung