PRS – Dalam arahannya, Gubernur NTT menekankan bahwa rendahnya pendapatan masyarakat bukan disebabkan keterbatasan sumber daya, melainkan karena pola ekonomi yang masih bergantung pada penjualan bahan mentah.
Menurutnya, masyarakat perlu beralih ke pola produksi berbasis nilai tambah, yakni dengan mengolah hasil pertanian sebelum dijual ke pasar.
Ia mencontohkan komoditas seperti jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, hingga produk lokal seperti tenun ikat yang memiliki potensi besar jika diolah dan dikemas secara profesional.
“Produk yang sama bisa memiliki nilai jual lebih tinggi jika diolah dan memenuhi standar, seperti BPOM,” ujarnya.
Program yang menjadi fokus pemerintah provinsi adalah “SMK Membangun Desa”, yang mengintegrasikan sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan desa untuk memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal.
Program ini mengusung konsep One Village One Product, One School One Product, dan One Community One Product.
Gubernur juga menyoroti posisi strategis Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan dengan Timor Leste.
Ia menilai arus perdagangan lintas batas yang tinggi seharusnya dimanfaatkan untuk memasarkan produk lokal.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa sekitar Rp51 triliun uang masyarakat NTT setiap tahun mengalir ke luar daerah akibat ketergantungan pada produk luar.
Hal ini menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi melalui penguatan produksi lokal dan jaringan pemasaran seperti NTT Mart.
Ia juga menekankan pentingnya peran SMK sebagai pusat produksi dan inovasi, bukan hanya lembaga pendidikan teori.
Bahkan, ia mendorong hadirnya SMK berstandar internasional di wilayah perbatasan.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kerja sama antara pemerintah desa dan MKKS SMK Kabupaten Belu.
Program berlangsung dari 29 Maret hingga 1 April 2026, dengan pelatihan seperti tenun ikat, menjahit, dan pengolahan pangan lokal.
Sasaran utama program adalah masyarakat desa, khususnya anak usia sekolah yang putus sekolah, guna meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, Elly Ch. Rambitan menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut sebagai upaya menekan angka kemiskinan di desa.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

PRS – Polemik kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana puluhan juta rupiah yang melibatkan Jesica Sodakain dan…

PRS – Terpilihnya Wilhelmus Geri dalam dinamika pemilihan pengurus Koperasi Kredit (KOPDIT) Swasti Sari melalui…

PRS – Polemik dalam pemilihan pengurus Koperasi Kredit (KOPDIT) Swasti Sari kembali mencuat. Sejumlah narasumber,…

PRS – Pernyataan yang beredar di media online terkait dugaan penggelapan dana UKT yang disebut-sebut digunakan…






