Ia menambahkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya membangun jalan atau gedung, tetapi juga membangun kualitas manusia.
Karena itu, laki-laki dan perempuan harus diberi kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, hingga menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Harapan serupa disampaikan warga Desa Oesena, Alfiana Baok. Ia mengatakan perempuan kini semakin menunjukkan kapasitasnya sebagai mitra sejajar laki-laki dalam pembangunan desa.
“Perempuan bukan lagi hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi telah menjadi pelaku utama yang memberikan ide, tenaga, dan kontribusi nyata bagi kemajuan desa,” katanya.
Menurut Alfiana, semakin luas ruang yang diberikan kepada perempuan untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam pengambilan keputusan, maka pembangunan desa akan semakin berkualitas karena lahir dari aspirasi seluruh masyarakat.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti diskusi kelompok dan studi kasus untuk menyusun prioritas pembangunan desa berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dengan pendekatan Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM), termasuk penganggaran responsif gender serta monitoring dan evaluasi pembangunan desa.
Ketua Tim PkM, Eusabaius Separera Niron, menegaskan bahwa pembangunan desa yang berhasil adalah pembangunan yang memastikan seluruh warga memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, memperoleh manfaat, dan ikut menentukan arah kebijakan desa.
“Pembangunan harus menghadirkan keadilan bagi semua. Pengarusutamaan gender menjadi bagian penting agar setiap kebijakan desa benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, FISIP UNWIRA Kupang berharap Pemerintah Desa Oesena semakin mampu menyusun dokumen perencanaan pembangunan yang berbasis kebutuhan masyarakat, memperkuat tata kelola pemerintahan desa yang demokratis, serta menghadirkan pembangunan yang inklusif dan berpihak kepada seluruh warga.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk menumbuhkan harapan, memperkuat kolaborasi, dan membangun desa yang lebih adil.
Di Desa Oesena, pembangunan tidak hanya dimaknai sebagai berdirinya infrastruktur.
Ia tumbuh dari kebersamaan, saling menghargai, dan keyakinan bahwa ketika perempuan dan laki-laki berjalan berdampingan, masa depan desa akan lahir dengan lebih kuat, lebih indah, dan lebih bermartabat. (**)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








