Melki juga mengingatkan tentang perbedaan pembangunan NTT di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), di mana NTT mendapat banyak proyek pembangunan, seperti infrastruktur dan pariwisata, karena kedekatan para pemimpin daerah dengan pemerintah pusat.
“Kedekatan Pak Frans Lebu Raya dan Pak Viktor Laiskodat dengan Pak Jokowi membawa banyak manfaat pembangunan untuk NTT,” tambahnya.
Pernyataan Ansy Lema yang meremehkan pentingnya partai koalisi semakin memperuncing perdebatan.
“Saya agak sedih mendengar ini disampaikan oleh seseorang yang seharusnya sangat paham manfaat kedekatan dengan pemerintah pusat, khususnya dengan Presiden Prabowo Subianto,” tandas Melki.
Sementara itu, Ansy Lema tetap bersikeras bahwa pertemanan di tingkat pusat lebih penting daripada dukungan partai koalisi.
“PDI Perjuangan memiliki 110 kursi di DPR RI, dan itu menunjukkan kekuatan jejaring kami. Pertemanan jauh lebih tinggi dari sekadar koalisi politik,” pungkas Ansy.
Debat ini menunjukkan perbedaan pandangan tajam antara para calon, yang diharapkan dapat memicu diskusi lebih lanjut di tengah masyarakat NTT menjelang Pilkada 2024.
Reporter: Hendrik/TIM
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












