PRS – Seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia kembali membongkar kebijakan negara dimata publik.
Kepergian anak kecil itu bukan sekadar duka keluarga, melainkan luka mendalam bagi kemanusiaan dan pendidikan, sekaligus tamparan keras bagi negara dan seluruh pemangku kebijakan.
Tragedi ini sontak menuai kecaman dari berbagai pihak.
Pengamat sosial sekaligus Ketua Araksi NTT, Alfred Baun menilai peristiwa tersebut sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya yang paling rentan, terutama anak-anak dari keluarga miskin.
“Ini adalah pelajaran pahit dan tamparan keras bagi negara. Anak sekecil ini tidak seharusnya menanggung beban hidup akibat kemiskinan ekstrem,” ungkap Alfred Baun
Peristiwa ini kuat dipicu oleh kemiskinan ekstrem yang dialami keluarga korban, terutama ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan yang nilainya bahkan tidak mencapai Rp10.000.
Ia menyebut tragedi ini sebagai pelajaran pahit sekaligus tamparan keras bagi negara dan seluruh pemangku kebijakan di NTT.
“Mari kita membuka mata atas tragedi di Kabupaten Ngada. Seorang siswa SD mengakhiri hidupnya hanya karena tidak memiliki uang untuk membeli alat tulis. Ini bukan sekadar tragedi keluarga, ini tragedi kemanusiaan,” tegas Alfred Baun pada Kamis, 5 januari 2026.
Menurut Alfred, kemiskinan ekstrem bukan sekadar data statistik atau laporan tahunan pemerintah, melainkan realitas pahit yang telah menjelma menjadi predator bagi anak-anak kecil yang polos, jujur, dan tulus.
“Di saat banyak orang dengan mudah membuang uang untuk hal sia-sia, ada anak-anak di NTT yang harus mempertaruhkan nyawanya hanya demi buku dan pena seharga sepuluh ribu rupiah,” ungkapnya dengan nada getir.
Ia menilai peristiwa ini sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan, khususnya di sektor pendidikan dan perlindungan sosial.
Alfred bahkan menyebut NTT sedang berduka karena negara gagal menghadirkan keadilan sosial bagi rakyatnya yang paling miskin.
“Negara harus malu. Rakyatnya bunuh diri karena tidak ada uang Rp10.000. Ini bukan soal malu di mulut saja. Ini kegagalan sistemik,” katanya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








