PDIP NTT: Demokrasi Bukan Urusan Elite, Pilkada Harus di Tangan Rakyat

Poros NTT News

Partisipasi politik masyarakat dapat menurun karena rakyat kehilangan hak untuk memilih pemimpinnya secara langsung.

Di sisi lain, pertanggungjawaban kepala daerah kepada rakyat menjadi melemah, sementara ketergantungan kepada elite politik di parlemen daerah justru menguat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Usaha Anda Tampil Disini? Hubungi Kami!!!

Kondisi tersebut dinilai membuka ruang praktik politik transaksional yang sulit diawasi publik.

“Demokrasi yang hanya berputar di ruang elite adalah demokrasi yang kehilangan jiwa. Ini bertentangan dengan garis perjuangan PDI Perjuangan yang memperjuangkan demokrasi kerakyatan, bukan demokrasi elitis,” ujar Ernesta.

Sejalan dengan pemikiran Megawati Soekarnoputri, Ernesta menegaskan bahwa efisiensi anggaran negara harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kesejahteraan rakyat, bukan sebagai pembenaran untuk memangkas hak-hak dasar warga negara.

Menurutnya, tantangan utama dalam Pilkada bukan pada mahalnya biaya demokrasi, melainkan pada perbaikan tata kelola pemilu, penegakan hukum, pemberantasan politik uang, serta peningkatan kualitas kaderisasi politik.

Karena itu, DPR RI didorong untuk berhati-hati dan berpijak pada tanggung jawab moral serta konstitusional dalam membahas revisi Undang-Undang Pilkada.

Baca Juga :  Dua TK/PAUD Terpencil di Lembata Ikut Lomba Mewarnai Gambar Budaya

Revisi tersebut, tegas Ernesta, harus diarahkan pada penguatan kualitas demokrasi, bukan pada pembatasan hak politik rakyat.

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPR RI dinilai memikul amanat sejarah untuk menjaga denyut demokrasi Indonesia tetap hidup dan berakar pada kehendak rakyat.

Dalam kerangka perjuangan PDI Perjuangan, hukum harus menjadi alat pembebasan dan keadilan sosial, bukan instrumen yang menjauhkan rakyat dari proses pengambilan keputusan politik.

Reporter: Hendrik/Tim

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com

+ Gabung