Tragedi Seorang Ibu yang Dilupakan di Sebuah Desa Terpencil

Poros NTT News

“Hai, Darmi! Kamu mau ke mana?” tanya temannya.

Apa yang terjadi selanjutnya membuat hati Darmi terasa berat. Temannya melihat ibu Darmi dengan pandangan tajam, bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Dia siapa, Darmi? Ibumu?”

Darmi merasa kebingungan dan sedikit malu. Dia tidak ingin temannya tahu bahwa ibunya adalah seorang pekerja keras yang bekerja di ladang. Tanpa berpikir panjang, Darmi menjawab dengan tergesa-gesa, “Oh, dia pembantuku.”

Ketika ibu Darmi mendengar jawaban itu, rasa sakit dan kecewa menyelinap ke dalam hatinya, namun dia tetap menjaga ketenangan.

Mereka melanjutkan perjalanan ke pasar, dan di sepanjang jalan, Darmi bertemu dengan teman-temannya yang lain.

Setiap kali teman-temannya bertanya tentang ibunya, Darmi dengan cepat menjawab bahwa ibunya adalah pembantunya.

Hati ibu Darmi semakin teriris saat mendengar anaknya menyebut dirinya sebagai pembantu.

Namun, dia berusaha menahan diri dan terus mendampingi Darmi hingga sampai di pintu pasar.

Di pintu pasar, Darmi kembali bertemu dengan teman yang lain. Teman itu dengan rasa ingin tahu bertanya, “Siapa yang ada di belakangmu? Apa dia ibumu?”

Baca Juga :  Seru!! Malam Pertama Kakek 76 Tahun Setelah Nikahi dengan Gadis Cantik

Darmi merasa tertekan dan tidak tahan lagi. Dengan mata berkaca-kaca, dia menjawab, “Bukan dia bukan ibuku, dia pembantuku.”

Saat itulah, ibu Darmi merasa hatinya hancur. Dia merasa sangat terluka oleh kata-kata anaknya sendiri.

Namun, dia tidak dapat menunjukkan kesedihannya karena ingin melindungi perasaan Darmi.

Setelah sampai di pasar, mereka berdua berhenti sejenak. Ibu Darmi, dalam hati, berdoa dengan tulus, “Maafkan aku, nak, jika ini membuatmu malu. Ini semua demi cinta kita.”

Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Darmi merasa sesuatu yang aneh dan perlahan mulai menjerit dari kaki dan tubuhnya menjadi kaku hingga membuat dia tidak dapat bergerak lagi.

Sesaat kemudian, Darmi tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia berubah menjadi batu.

Ibu Darmi menangis pilu melihat anaknya yang telah dihukum. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Darmi dari kesalahan yang telah dilakukannya.

Namun, sayangnya, hukuman sudah terjadi. Darmi benar-benar menjadi batu yang kemudian diberi nama “Batu Menangis.” di Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Sekarang “Kuat Main Lama” yang Sedang Ramai Dibicarakan

Batu Menangis menjadi saksi bisu dari cerita tragis seorang ibu yang berjuang dengan cinta untuk anaknya yang akhirnya durhaka.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PorosNTTNews.Com

+ Gabung

Exit mobile version