Pemberlakuan Pendidikan Profesi Membuat Bidan Swasta di Lembata Merana

Reporter: Teddi LEditor: Redaksi
Poros NTT News

Lembata,Porosnttnews.comSejumlah bidan yang bekerja di rumah sakit swasta di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata cemas dengan pemberlakuan pendidikan profesi yang ditetapkan pemerintah.

Pasalnya, mereka yang selama ini bekerja di rumah sakit swasta rata-rata tamatan D3 dan D4 Kebidanan. Dan jika diharuskan mengambil profesi kebidanan maka sudah pasti banyak yang tidak sanggup.

Swipe up untuk membaca artikel

Hal ini disampaikan Agustina Ina Dida Huki ketika diminta tanggapan terkait pemberlakukan pendidikan profesi terhadap bidan usai kegiatan HUT IBI Ke 71 bertempat di kantor bupati Lembata, Senin (27/6).

“Kalau seperti itu maka kami sangat kuatir dengan keberadaan kami nanti,” ungkap Ina Dida.

Bidan yang sehari-hari bekerja di Rumah Sakit Bukit Lewoleba ini mendukung adanya pendidikan profesi kebidanan, namun dirinya kuatir kalau yang menjadi prioritas hanya bidan PNS di lembaga pemerintah.

Padahal, kata dia, antara bidan swasta dan bidan PNS menjalankan tugas yang sama, termasuk sama-sama mendukung dan menjalankan program yang digagas pemerintah.

Baca Juga :  Donasikan 30 Unit Konsentrator Oksigen Untuk Pemprov NTT

Dia juga merana karena biaya untuk bisa sampai ke jenjang pendidikan profesi sangat besar, sementara ia hanya bidan dirumah sakit swasta yang minim anggaran ketimbang lembaga milik pemerintah.

“Perjuangan untuk pendidikan profesi itu harus butuh anggaran besar, sementara kami hanya bidan swasta, tidak ada tunjangan jadinya mau bagaimana,” katanya.

Bukan hanya itu, mantan bidan PTT Lembata ini juga risau karena jika tidak mengantongi sertifikat pendidikan profesi maka dirinya bakal terancam tidak bisa bekerja.

“Itu kan syarat kebidanan, kalau itu tidak ada maka kami pasti tidak bisa kerja layani pasien,” terangnya.